Janur Ireng, Prekuel yang Memperdalam Teror Santet Sewu Dino

Purwokerto — Industri film horor Indonesia kembali menghadirkan kisah mencekam lewat Janur Ireng, film yang menjadi prekuel dari Sewu Dino. Diadaptasi dari semesta cerita karya SimpleMan, film ini mencoba menggali lebih dalam akar teror santet dalam film Sewu Dino.

Sejak awal, Janur Ireng membangun atmosfer yang kelam dan sarat ketegangan. Penonton diajak menyusuri asal-usul praktik santet yang menjadi inti konflik, lengkap dengan elemen budaya Jawa yang kental. Tata suara yang intens dan visual bernuansa gelap memperkuat kesan mencekam, membuat suasana terasa semakin sempit dan penuh ancaman.

Secara naratif, film ini tidak sekadar mengandalkan jumpscare, melainkan membangun horor lewat cerita yang perlahan namun pasti. Penonton dibuat memahami latar belakang konflik yang nantinya terhubung dengan peristiwa di Sewu Dino. Pendekatan ini menjadi nilai tambah karena memperluas semesta cerita dan memberi kedalaman pada mitologi yang dibangun.

Hari (20), mengaku puas dengan penyajian cerita yang lebih detail. “Menurut saya, Janur Ireng itu kuat banget di atmosfernya. Rasanya lebih gelap dan serius. Kita jadi tahu asal-usul konflik di Sewu Dino. Jadi bukan cuma serem, tapi juga nambah pemahaman soal santet yang terdapat dalam Sewu Dino” ujarnya.

Rani juga menilai penggarapan setting dan musik latar menjadi kekuatan utama film ini. “Sound effect-nya bikin tegang terus. Bahkan di beberapa adegan yang tenang pun rasanya tetap bikin atmosfer yang nggak nyaman, itu keren sih,” tambahnya.

Meski begitu, tidak semua penonton merasa puas. Yudia (19), menilai tempo cerita terasa terlalu brutal. “Suasananya terlalu tegang, terlebih di beberapa scene yang berbau darah, itu nggak nyaman dilihat,” ujarnya.

Sebagai prekuel, Janur Ireng berhasil memperluas dunia Sewu Dino dengan pendekatan yang lebih mendalam dan atmosfer yang kuat. Film ini cocok bagi penonton yang menyukai horor dengan pembangunan cerita bertahap dan kaya unsur budaya. Namun, bagi yang mengharapkan kesan horor tanpa darah, film ini kurang cocok.

Secara keseluruhan, Janur Ireng menjadi pelengkap penting dalam semesta cerita yang telah dibangun sebelumnya, sekaligus mempertegas bahwa horor lokal dengan akar budaya masih memiliki daya tarik kuat di industri perfilman Indonesia.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *