Seiring dengan pesatnya perkembangan platform video pendek seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts, muncul kekhawatiran bahwa minat baca sastra di kalangan generasi muda mulai menurun. Format video yang singkat dan instan dianggap memengaruhi pola pikir, yang menyebabkan penurunan daya tahan terhadap bacaan yang lebih panjang, seperti novel atau karya sastra klasik.
Di era digital saat ini, media sosial memainkan peran besar dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi remaja. Salah satu tren yang sedang berkembang pesat adalah konten video pendek. Banyak platform, seperti TikTok dan Instagram, menawarkan konten hiburan yang dikonsumsi dalam hitungan detik hingga menit, langsung menarik perhatian dengan format yang cepat dan instan.
Namun, pola konsumsi yang cepat ini memunculkan tantangan tersendiri, khususnya dalam dunia literasi sastra. Teori cognitive load atau beban kognitif menyatakan bahwa semakin banyak informasi yang diproses dalam waktu singkat, semakin sulit bagi otak untuk fokus pada tugas yang memerlukan konsentrasi lebih lama. Membaca buku atau menonton film panjang membutuhkan keterlibatan kognitif yang lebih mendalam dibandingkan konsumsi video singkat.
Selain itu, teori media displacement menjelaskan bahwa ketika waktu lebih banyak dihabiskan untuk satu jenis media, konsumsi media lain akan berkurang. Dalam konteks ini, semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk menonton video pendek, semakin sedikit waktu yang tersisa untuk kegiatan membaca atau menikmati karya sastra. Dengan kata lain, waktu yang dihabiskan untuk menonton video pendek mungkin telah menggantikan waktu untuk aktivitas literasi.
Remaja saat ini mengaku bahwa mereka lebih cepat merasa bosan saat harus membaca buku dibandingkan menonton video pendek. Ini sejalan dengan teori instant gratification, di mana individu lebih memilih aktivitas yang memberikan kepuasan cepat daripada aktivitas yang membutuhkan usaha dan waktu lebih lama.
Namun, di sinilah pesan penting yang perlu kita sampaikan: Generasi muda tidak harus meninggalkan kebiasaan membaca hanya karena kecanduan media cepat. Membaca buku dan mengonsumsi karya sastra, meskipun memerlukan lebih banyak waktu dan konsentrasi, dapat memberikan kepuasan intelektual yang mendalam, memperluas wawasan, dan membantu meningkatkan imajinasi serta kemampuan berpikir kritis.
Kebiasaan membaca dapat membantu menyeimbangkan kemampuan kognitif yang dibutuhkan dalam menghadapi dunia yang semakin kompleks. Membaca sastra bukan hanya tentang memahami cerita, tetapi juga tentang memahami manusia, emosi, dan kehidupan secara lebih luas. Di tengah gempuran media digital, penting bagi kita untuk mengingat bahwa sastra menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar hiburan instan—ia memberikan kedalaman, makna, dan pembelajaran yang tidak bisa ditemukan dalam format singkat.
Strategi sederhana untuk menjaga keseimbangan antara hiburan digital dan literasi bisa dimulai dari langkah-langkah kecil:
- Jadwalkan waktu khusus untuk membaca—mungkin 10 hingga 20 menit sehari.
- Gunakan media digital sebagai alat bantu—seperti mendengarkan audiobooks atau membaca e-book.
- Gabungkan konten literasi dalam aktivitas sehari-hari—misalnya dengan mengikuti akun media sosial yang membagikan cuplikan karya sastra, atau membaca cerita pendek yang bisa dinikmati di sela-sela aktivitas lainnya.
Dengan demikian, literasi sastra tidak hanya akan bertahan, tetapi juga bisa terus berkembang di era yang serba cepat ini.