Kokuho: Ketika Film menjadi Panggung Budaya Kabuki

Film kerap menjadi jendela untuk mengenal dunia yang berbeda dari kehidupan sehari-hari. Hal itu terasa kuat dalam Kokuho, film Jepang tahun 2025 yang baru tayang di bioskop Indonesia pada 2026. Kokuho menghadirkan pengalaman visual budaya kabuki. Kabuki dikenal sebagai seni pertunjukan tradisional Jepang yang menggabungkan drama, tari, dan musik, serta peran yang umumnya dimainkan oleh aktor laki-laki.

Sejak dirilis, film Kokuho turut menuai perhatian publik. Di Internet Movie Database (IMDb), Kokuho meraih rating 7,7/10 dan disebut sebagai salah satu film non-animasi Jepang terlaris sepanjang masa. Di balik angka dan pencapaian tersebut, pengalaman penonton menjadi cerita yang tak kalah menarik.

Nazwa, salah satu penonton Kokuho, mengaku awalnya tidak terlalu tertarik menonton film ini. “Aku awalnya enggak tertarik, tetapi setelah lihat trailer dan sinopsisnya jadi penasaran. Kabuki yang jadi topik utama itu sebenarnya apa,” ujarnya dalam wawancara pada 23/02/2026.

Rasa penasaran berubah menjadi kekaguman setelah film selesai ditonton. Alih-alih terasa berat, film justru memberikan pengalaman yang tak terduga. “Amaze banget sih. Aku kagum sama performance kabukinya, acting semua aktornya juga. Aku kira bakal bosen karena ini kan masuknya budaya gitu ya, ternyata aku enjoy banget selama nonton,” ungkap Nazwa.

Bagi Nazwa, daya tarik utama film ini terletak pada pertunjukan kabuki yang ditampilkan dengan intens dan emosional. Unsur budaya kabuki menjadi pengalaman baru yang memperluas sudut pandang penonton. Seni yang sebelumnya terasa asing, justru menjadi bagian paling menarik dari film.

Kokuho juga membuka perbandingan budaya. Nazwa melihat adanya kemiripan dengan karya film Indonesia yang mengangkat seni tradisional. “Pas nonton ini aku langsung ingat film Indonesia Kucumbu Tubuh Indahku. Di situ aku sadar, di kesenian tradisional Indonesia dan Jepang, gender itu bisa jadi peran yang dipelajari dan dimainkan. Seni itu enggak se-kaku yang sering kita bayangkan,” jelas Nazwa.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa film lintas budaya mampu memantik diskusi yang lebih luas. Bukan hanya mengenai cerita, tetapi juga tentang nilai, identitas, dan cara masyarakat memandang seni.

Komentar akun @shanonnangelica-50593 di IMDb pada 27 November 2025 mengenai Kokuho. (Dok. Pribadi)

Respons serupa juga terlihat melalui sejumlah ulasan di IMDb. Film Kokuho digambarkan sebagai tontonan berdurasi panjang yang tetap terasa memikat. Penonton menyoroti bagaimana pertunjukan kabuki, visual, serta dinamika emosi karakter mampu menghadirkan pengalaman menonton yang intens.

Komentar akun @catmurmur di IMDb pada 10 November 2025 mengenai Kokuho. (Dok. Pribadi)

Pengguna IMDb lainnya, @catmurmur, juga menggambarkan Kokuho sebagai film yang menghadirkan ketegangan dan emosi yang terasa konsisten, didukung penampilan seni tradisional Jepang yang dinilai memukau.

Secara keseluruhan, Kokuho menunjukkan bahwa film bukan sekadar hiburan. Film dapat menjadi ruang perjumpaan antara penonton di masa kini dan budaya yang telah hidup berabad-abad. Melalui panggung kabuki yang ditampilkan, pengalaman menonton dalam film Kokuho tak hanya dapat dinikmati, tetapi juga dihadirkan sebagai sarana untuk mengenal nilai dan kekayaan seni tradisional.

Editor: Barginia Anindya Maharani

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *