Purwokerto — Mahasiswa dan warga Purwokerto memilih lari sore untuk mengisi waktu menjelang berbuka puasa. Aktivitas ini dilakukan pukul 16.00 WIB hingga waktu magrib. Lari sore menjadi alternatif ngabuburit yang sehat dan produktif selama Ramadan.
Lari saat hari biasa dan saat berpuasa memiliki perbedaan pada intensitas, kecepatan, dan beban latihan yang disesuaikan dengan kondisi tubuh. Saat puasa, pelari cenderung mengurangi tempo agar tidak kelelahan.
Ungguli, warga Purwokerto, tetap berlari selama satu jam dengan intensitas lebih ringan. “Kecepatan lari di hari biasa sekitar enam menit per kilometer, sedangkan saat puasa menjadi delapan menit per kilometer,” ujarnya. Menurutnya, pengurangan beban tersebut bertujuan mencegah dehidrasi dan menjaga stamina karena tidak ada asupan cairan selama berlari.
Selain menjaga kebugaran, lari menjelang berbuka puasa juga membantu membakar lemak. Nabila, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman (FK Unsoed), mengatakan lari sore menjadi cara untuk mengisi waktu luang sekaligus menerapkan pola hidup sehat. Menurutnya, ngabuburit dengan berolahraga membuat waktu menunggu berbuka terasa lebih bermanfaat.
Hal serupa disampaikan Daffa, mahasiswa FK Unsoed. Ia mengaku merasakan manfaat langsung dari kebiasaan tersebut. “Lari menjelang buka puasa bermanfaat. Saya bahkan bisa menurunkan berat badan dengan aktivitas ini,” katanya.
Ungguli juga menilai lari sore membantu menjaga stamina selama Ramadan dan menjadi pilihan ngabuburit yang lebih sehat dibandingkan hanya menunggu waktu berbuka tanpa aktivitas.
Ramadan bukan alasan untuk berhenti berolahraga. Dengan penyesuaian intensitas dan waktu, mahasiswa dan warga tetap bisa berlatih secara konsisten. Lari sore pun menjadi pilihan ngabuburit yang bermanfaat dan lebih produktif.
Editor : Alifia Rizqi Ramadhan
