Purwokerto—Ketika banyak habitat satwa liar terancam alih fungsi lahan, Aditya Putra Rahmadiansyah atau yang akrab disapa Aditya ini, memilih cara berbeda untuk bersuara yaitu lewat foto-foto burung, mamalia, dan reptil yang diabadikan sebagai bentuk kepedulian terhadap konservasi.
Ketertarikannya pada satwa muncul sejak lama. Bergabung dalam kelompok fotografi konservasi kampus, ia tak hanya memotret, tetapi juga melakukan monitoring dan identifikasi beberapa taksa hewan, mulai dari burung hingga reptil. “Sayang sekali jika satwa yang begitu beragam tidak didokumentasikan,” ujarnya. Ia tidak hanya melihat dirinya sebagai fotografer, tetapi juga bagian dari gerakan edukasi lingkungan.

Dari pengamatan di lapangan, termasuk saat ekspedisi di Gunung Muria, ia merasakan bahwa jumlah dan kemunculan satwa bisa berubah bergantung kondisi cuaca dan aktivitas manusia. Satwa cenderung berpindah ketika habitatnya terganggu.

Mahasiswa IPB ini, mengungkapkan bahwa dokumentasi visual memiliki peran penting dalam konservasi. Bersama tim, ia menggunakan kamera, drone, hingga alat perekam suara untuk mengidentifikasi satwa, termasuk elang jawa dan tupai terbang merah. Hasil dokumentasi tersebut kemudian dipublikasikan melalui media sosial dan kegiatan edukasi. Upaya ini dinilai cukup berdampak, salah satunya dengan berkurangnya praktik perburuan di beberapa wilayah setelah dilakukan kampanye.
Meski demikian, ia menyadari ancaman serius seperti alih fungsi lahan dan deforestasi, terutama bagi satwa yang sensitif seperti mamalia. Fragmentasi habitat dapat menyebabkan populasi terpecah dan terbatas, bahkan berisiko terjadi perkawinan sedarah yang berdampak pada kualitas keturunan hingga kepunahan.
Dalam praktiknya, fotografi konservasi memiliki tantangan tersendiri. Selain medan yang sulit, faktor keamanan menjadi perhatian utama. Peralatan yang digunakan pun cukup beragam, mulai lensa jarak jauh, kamera mirroless, drone, snake grabber, dan alat pendukung lainnya.
Jika satwa dapat berbicara, ia membayangkan mereka akan meminta manusia menjaga habitatnya dan menghentikan perburuan liar. “Jangan pernah menjual kami,” ucapnya.


Melalui kamera, Aditya percaya bahwa emosi satwa dapat tersampaikan. Foto menjadi bukti nyata sekaligus sarana membangun kesadaran. “Tanpa foto, kita tidak bisa asal mengatakan bahwa satwa tertentu dilindungi. Bahkan dengan foto saja, kesadaran masih perlu terus dibangun,” tuturnya.
Selain itu, ia menyampaikan pesan bagi generasi muda. Menurutnya, konservasi bukan hanya soal melindungi, tetapi juga memanfaatkan secara bijak tanpa mengeksploitasi. “Mari menjaga agar habitat mereka tetap ada sampai anak cucu kita nanti,” ujarnya. Lewat lensa kamera, Aditya menunjukkan bahwa konservasi tidak selalu hadir dalam bentuk aksi besar. Terkadang, satu gambar dapat menjadi media edukasi sekaligus pengingat bahwa di balik rimbunnya hutan, ada kehidupan yang harus dijaga.
Editor: Nabila Aulia Sevira
