
Purwokerto — Rabu, 10 Desember 2025, suasana di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman terasa berbeda. Gerimis sore menyisakan udara lembap ketika penonton mulai berdatangan, duduk di pelataran kampus, atau sekadar berkeliling booth mahasiswa sambil menunggu pintu Aula Bambang Lelono dibuka pukul 18.00. Malam itu, Jagat Rasa 2025 resmi dimulai.
Begitu penonton memasuki aula, ruangan masih gelap. Musik dangdut modern diputar sebagai hiburan. Hanya layar proyektor yang menyala, menampilkan video singkat proses latihan mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia angkatan 2023. Terlihat tawa dan kerja keras mereka, serta potongan-potongan momen yang menjadi pembuka hangat bagi pementasan pertama: Matahari di Sebuah Jalan Kecil, karya Arifin C. Noer, disutradarai oleh Ameng dengan asisten sutradara Caca.
Panggung tanpa tirai menampilkan sebuah set sederhana: replika warung tahu Grendeng, bangku bambu panjang, meja, gelas plastik, dan jajaran minuman sachet yang digantung rapi. Cahaya lampu kuning cukup terang, memberi kesan desa yang hangat dan akrab. Dari kesederhanaan inilah cerita bergulir.
Pertunjukan dibuka dengan obrolan warga tentang pabrik, pekerjaan, politik, dan kehidupan sehari-hari. Sebuah percakapan ringan yang akrab sembari menikmati pecel yang mereka beli dari Si Mbok. Namun suasana berubah ketika seorang pemuda datang membeli pecel. Setelah makan, ia baru menyadari dompetnya tertinggal. Dari momen kecil itu, konflik berkembang menjadi hiruk-pikuk penuh komedi.
Warga yang semula ramah mendadak curiga. Mereka mendesak sang pemuda membayar, bahkan meminta ia melepas baju sebagai jaminan. Dialog dan aksi para pemeran yang lucu, serta sindiran halus mengenai pejabat korup membuat penonton beberapa kali pecah oleh tawa. Sosok Tini, seorang warga berbaju coklat dengan logat ngapak yang khas, dan wanita berbaju abu-abu yang paling lantang memojokkan sang pemuda, menjadi figur yang menonjol dan mencuri perhatian.

Ketika suasana mulai memanas, seorang yang dipanggil Mbak Yu tiba-tiba datang membela, dan membayarkan pecel sang pemuda lebih dari harganya. Namun itu tak langsung meredakan kericuhan. Warga terlanjur curiga, sementara pemuda itu terus memohon. Ketegangan berbalik haru ketika ia mengaku sebagai perantau dari Brebes yang sedang lapar dan betul-betul lupa membawa dompet. Si Mbok penjual pecel yang diperankan dengan empati dan ketulusan berusaha mengembalikan baju yang sempat disita warga dan membiarkan pemuda itu pergi.
Belum selesai kehangatan itu, seorang penjaga malam muncul dan mengungkapkan bahwa pemuda tersebut memang pernah menipu sebelumnya. Penonton mendadak hening. Kepercayaan yang sempat tumbuh runtuh seketika.
Drama ditutup dengan adegan kejar-kejaran ketika pemuda itu kembali di hari berbeda dan tertangkap mencuri sesuatu. Warga mengejarnya, dan adegan yang seharusnya tegang berubah sedikit kacau karena tirai belakang sedikit tersangkut sehingga menambah kesan jenaka.
Sepanjang pertunjukan, para pemain tampil lepas dan saling mengimbangi. Musik dan efek suara digunakan dengan tepat untuk memperkuat emosi. Kostum sederhana tetap berhasil menciptakan nuansa desa, meski terdapat satu hal yang menggelitik: pemeran pemuda yang di poster tampil dengan pakaian adat Jawa bermotif lurik, di panggung justru memakai kaus biasa berwarna abu terang sehingga membuat penonton sempat bertanya-tanya saat ia pertama muncul.
Meski alurnya terasa menggantung dan unsur “matahari” dalam judul tidak tergarap kuat, keseluruhan pementasan tetap menghibur. Penonton antusias, fokus, dan memberikan tepuk tangan panjang ketika pertunjukan berakhir sekitar pukul 20.45. Keluar dari aula, mereka disambut pameran fotografi yang langsung dipadati pengunjung. Banyak yang berhenti untuk memotret pohon karya yang terpajang di tengah ruangan.

Malam pertama Jagat Rasa bukan hanya tentang sebuah pertunjukan drama, tetapi juga tentang tawa, kejutan, dan kehidupan kecil yang dirayakan di atas panggung. Dari sepiring pecel hingga adegan kejar-kejaran, semuanya menghadirkan cerita hangat yang menunjukkan kecurigaan bisa melindungi, namun juga bisa melukai, dan bahwa wajah seseorang tak selalu mencerminkan niat sebenarnya.
Editor: Alya Martzalyanti
