Purwokerto – Laporan kemampuan membaca yang dirilis baru-baru ini kembali membuka fakta bahwa pembelajaran bahasa pada sekolah di Indonesia masih menghadapi persoalan serius. Fenomena ini terlihat jelas di berbagai ruang kelas, ketika siswa kesulitan memahami isi bacaan yang seharusnya dapat mereka cerna dengan mudah. Situasi ini muncul karena pola belajar yang masih terpaku pada hafalan aturan, bukan pemaknaan. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan tentang bagaimana sekolah dapat memperbaiki pendekatan pengajaran agar benar-benar membangun kemampuan literasi yang kuat.
Pembelajaran bahasa selama ini lebih banyak berpusat pada ketuntasan materi, bukan pada pengalaman berbahasa itu sendiri. Guru sering terjebak pada target penyelesaian bab, sementara siswa hanya mengikuti instruksi tanpa memahami konteks. Akibatnya, proses belajar berjalan kering dan mekanis. Padahal, kemampuan berbahasa tidak tumbuh dari teori semata, tetapi dari interaksi, pemahaman, dan pembiasaan membaca serta menulis.
Permasalahan ini mengisyaratkan bahwa pemahaman tentang literasi di sekolah perlu diperluas. Literasi tidak hanya berarti mampu membaca teks, melainkan juga mengaitkan informasi, melihat relevansi, serta memahami tujuan sebuah tulisan. Tanpa pemahaman yang lebih luas mengenai esensi literasi, pembelajaran bahasa akan terus terasa dangkal dan jauh dari kebutuhan siswa di era informasi.
Di sisi lain, pembelajaran bahasa menuntut kemampuan mengajar yang tidak sekadar menyampaikan materi. Guru perlu terampil dalam menciptakan aktivitas yang menstimulasi pemikiran: mendiskusikan isi bacaan, mendorong siswa menulis pendapat, atau mengajak mereka menganalisis teks dari sumber yang beragam. Beberapa cara seperti inilah yang menghasilkan pembelajaran lebih hidup, bukan sekadar rutinitas.
Selain itu, pelajaran bahasa juga menyimpan nilai-nilai yang perlu ditanamkan melalui proses belajar. Cara siswa menggunakan informasi, menghargai perbedaan pendapat, serta menulis dengan jujur adalah bagian dari pendidikan yang tidak bisa terlepas. Jika ruang kelas mampu menumbuhkan sikap tersebut, maka kemampuan berbahasa akan berkembang bersama karakter.
Karena itu, perubahan di sekolah tidak cukup hanya dengan mengganti metode, tetapi juga menciptakan suasana yang membiasakan praktik literasi. Membaca setiap hari, menulis secara teratur, menggunakan teks yang dekat dengan kehidupan siswa, hingga menjadikan diskusi sebagai budaya kelas adalah langkah kecil yang berdampak besar. Ketika lingkungan mendukung, kemampuan berbahasa tumbuh lebih alami.
Krisis literasi yang terjadi saat ini sebenarnya dapat menjadi momentum bagi sekolah untuk berbenah. Pembelajaran bahasa harus bergerak dari pola yang kaku menuju pendekatan yang lebih memanusiakan proses belajar. Jika sekolah berani berubah, lebih terbuka, lebih reflektif, dan lebih relevan, maka kemampuan literasi siswa akan berkembang bukan hanya sebagai keterampilan akademik, tetapi sebagai fondasi berpikir di masa depan.
Editor: Mutiara Happy Nurhanifah
