Lapar Mata Saat Berburu Takjil, Pembeli Akui Sering Belanja Berlebihan

Purwokerto — Menjelang waktu berbuka puasa, kawasan penjual takjil ramai dipadati pembeli yang mencari hidangan untuk berbuka. Beragam makanan dan minuman yang dijajakan kerap membuat pembeli tergoda untuk membeli lebih banyak dari yang sebenarnya dibutuhkan.

Salah satu pembeli, Alfiyah, mengaku pernah membeli makanan secara berlebihan saat berburu takjil. “Mungkin karena tampilan makanannya menarik, jadi ingin membeli apa saja,” ujarnya. Akibatnya, tidak semua makanan yang dibeli habis dikonsumsi dan sebagian terpaksa dibuang. Ia juga mengaku pernah merasa menyesal setelah menyadari telah membeli terlalu banyak. “Sekarang biasanya saya mencatat terlebih dahulu dari rumah agar membeli sesuai kebutuhan,” tambahnya.

Pengalaman serupa juga dirasakan oleh Rimanda. Ia mengatakan bahwa rasa lapar membuat berbagai makanan terlihat lebih menggugah selera sehingga muncul keinginan untuk membeli semuanya. “Kalau sedang lapar, semua makanan terlihat enak, jadi ingin mencoba banyak,” katanya. Jika masih ada sisa makanan, ia biasanya menawarkannya kepada teman atau menyimpannya agar tidak terbuang. Menurutnya, mengendalikan diri dan mengingat kondisi keuangan menjadi cara agar tidak bersikap boros.

Sementara itu, Dwi berpendapat bahwa kebiasaan membeli secara berlebihan saat Ramadan terjadi karena orang telah menahan lapar dan haus seharian. Ketika melihat makanan yang tampak menggugah selera, banyak orang langsung tergoda untuk membeli tanpa mempertimbangkan jumlahnya. “Kadang melihat makanan yang menarik, saya langsung ingin membeli hingga tidak sadar sudah terlalu banyak,” ungkapnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa rasa lapar dan banyaknya pilihan makanan dapat membuat seseorang menjadi “lapar mata”. Ramadan menjadi pengingat bahwa bulan puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang belajar mengendalikan diri. Membeli makanan secukupnya dapat membantu mengurangi pemborosan sekaligus membuat makna Ramadan terasa lebih mendalam.

Editor: Meilan Triwahyuni

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *