Menapaki Menara Ramadan dengan “Man Jadda Wajada”

Purwokerto—Ramadan bukanlah sekadar ritual menahan lapar, melainkan sebuah ujian kesungguhan hati yang selaras dengan perjuangan Alif dalam novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi. Sosok remaja asal Minangkabau ini awalnya harus mengubur mimpi masuk SMA idaman di Bukittinggi demi menuruti nasihat Amaknya untuk mendalami agama. Meski sempat terpuruk dalam kesedihan, Alif akhirnya mengambil langkah berani untuk merantau ke Jawa dan nyantri di Pondok Madani. Di sanalah ia menemukan “bahan bakar” hidupnya melalui Man Jadda Wajada, barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan mendapatkan.

Semangat tersebut menjadi sangat relevan jika kita tarik ke dalam konteks ibadah di bulan suci ini. Sama halnya dengan Alif yang harus berjuang keras lulus ujian masuk di antara ribuan pendaftar, Ramadan adalah ajang pembuktian tekad yang bulat. Menjalani puasa sebulan penuh membutuhkan totalitas, setiap rasa lelah atau upaya menjaga lisan merupakan bentuk kesungguhan yang dijanjikan akan berbuah manis pada akhirnya

Di tengah perjalanan itu, Alif pun sempat goyah dan merasa iri melihat sahabatnya, Randai, yang menikmati masa remaja pada umumnya. Namun, lingkungan pesantren mendidiknya untuk berhenti membandingkan diri dan tetap fokus pada jalannya sendiri. Pelajaran ini menjadi pengingat berharga bagi kita selama Ramadan untuk tidak sibuk mengukur diri dengan pencapaian orang lain, melainkan fokus meningkatkan kualitas ibadah pribadi demi mencapai titik terbaik versi diri sendiri.

Salah satu momen paling ikonik dalam cerita tersebut adalah saat Alif bersama lima sahabatnya; Raja, Said, Dulmajid, Atang, dan Baso yang sering berkumpul di bawah menara masjid sembari menatap awan. Mereka yang dijuluki Sahibul Menara ini berani bermimpi besar hingga ke Eropa dan Amerika, yang di kemudian hari benar-benar menjadi nyata. Begitu pula dengan Ramadan, waktu terbaik bagi kita untuk “menatap awan” melalui doa-doa yang dipanjatkan dengan penuh keyakinan. Seperti Alif yang sukses melampaui ekspektasinya, mari kita gunakan sisa Ramadan ini dengan spirit kesungguhan yang sama, karena hanya dengan kesungguhan itulah kita dapat keluar sebagai pemenang di hari yang fitri nanti.

Editor:

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *