Mutu Pendidikan Terpuruk: Akses dan Fasilitas Jadi Sorotan

sumber dokumentasi: pinterest akun @fajarmartha

Purwokerto, 22 November 2025 – Salah satu tujuan negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun faktanya, apakah tujuan itu sudah tercapai?. Kualitas pendidikan di Indonesia kembali menjadi sorotan setelah berbagai temuan lapangan menunjukkan rendahnya mutu pembelajaran bahasa di banyak sekolah. Keterbatasan akses pendidikan dan minimnya fasilitas pendukung membuat proses belajar tidak berjalan optimal, terutama dalam membangun kemampuan berbahasa yang komprehensif.

Di sejumlah wilayah terpencil, siswa masih harus berbagi buku, belajar di ruang kelas dengan pencahayaan minim, dan menggunakan perangkat teknologi yang sangat terbatas. Kondisi tersebut membuat siswa sulit mengembangkan wawasan pengetahuan kebahasaan seperti memahami kosakata baku, struktur kalimat, serta penggunaan bahasa yang baik dan benar. Guru Bahasa Indonesia di Kabupaten Lombok Timur, Dwi Lestari, mengungkapkan bahwa banyak siswa belum memahami dasar-dasar literasi. “Buku pelajaran terbatas, internet sulit diakses. Siswa jadi kurang bahan bacaan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa,” ujarnya.

Selain keterbatasan pengetahuan, masalah muncul pada aspek keterampilan (skill) berbahasa. Siswa sering kesulitan menulis teks yang runtut, berbicara dengan percaya diri, atau membaca secara kritis. Upaya guru untuk memberikan latihan menulis atau diskusi kelompok terhambat karena fasilitas belajar seperti LCD, perpustakaan, atau laboratorium bahasa tidak memadai.

Tidak hanya pengetahuan dan keterampilan, aspek etika berbahasa juga menjadi tantangan. Banyak siswa belum memahami cara berkomunikasi yang sopan, baik dalam interaksi langsung maupun melalui media digital. Guru berupaya menanamkan nilai-nilai etika seperti penggunaan bahasa yang santun, menghargai lawan bicara, dan menyampaikan pendapat tanpa menyinggung. Namun, upaya ini membutuhkan pendampingan intensif yang sering terhambat oleh tingginya rasio jumlah siswa per kelas.

Kepala Dinas Pendidikan Nusa Tenggara Barat, Aidy Furqan, menegaskan bahwa rendahnya mutu pendidikan tidak hanya disebabkan oleh lemahnya kompetensi siswa, tetapi juga oleh ketimpangan sarana dan akses. “Pendidikan berkualitas sulit terwujud jika fasilitas dasar saja belum merata. Kami butuh sinergi antara sekolah, pemerintah, dan masyarakat untuk memperbaiki kondisi ini,” katanya.

Pemerintah pusat mengaku telah menyiapkan program penguatan literasi dan digitalisasi sekolah, termasuk pembangunan perpustakaan dan peningkatan pelatihan guru. Namun, realisasi di lapangan masih belum sepenuhnya merata. Banyak sekolah di daerah tertinggal belum merasakan dampak signifikan dari program tersebut.

Editor: Yon Hearify

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *