Sumber : Pinterest Thomas Tran
Telah terjadi pembunuhan terhadap orang berinisial KN, yang dibunuh oleh mantan suaminya berinisial SH sekitar pukul 05.00 WIB, pada Rabu, 10 Agustus 2024 di Desa Sawangan, Kec. Punggelan, Kab. Banjarnegara. Korban memiliki dua anak,perempuan yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan laki-laki yang belum bersekolah. Korban merupakan seorang anak tunggal dan sedang menjalankan usaha gorden yang sudah terkenal di Banjarnegara, bahkan hingga ke luar kota.
Peristiwa pembunuhan terjadi ketika korban pulang ke rumah bersama saudaranya. Saat itu, rumah dalam kondisi terkunci dan sepi karena orang-orang pergi ke masjid untuk melaksanakan salat subuh. Ketika terdengar ketukan pintu dengan disertai suara yang lama semakin kencang, ibu korban, yang berada di rumah karena kakinya sedang sakit dan tidak bisa berjalan, telah berpesan agar pintu tidak dibuka karena yang mengetuk adalah mantan suaminya. Setelah korban masuk rumah,ibu korban langsung mengunci semua pintunya dan mengamankan kedua cucunya dengan mengunci mereka dikamar, takut terjadi sesuatu kepada mereka. Namun, korban dengan tekat dan iman yang kuat berkata, “nggak papa mah, aku nggak takut. Aku pasrahkan ke gusti Allah.” Lalu korban membuka pintu.
Mantan suaminya masuk dan mereka duduk mengobrol di ruang tamu. Namun, lama-kelamaan obrolan itu menjadi perdebatan. Sang mantan suami terpancing emosinya dan mengeluarkan sebuah pedang yang cukup panjang dan bergerigi, lalu diarahkan ke perut korban. Korban terkejut dan mencoba untuk menyelamatkan diri. Namun, korban mendapat luka di tangannya. Korban berlari ke arah samping rumah, namun korban tertangkap. Mantan suaminya kemudian membekap korban dan menusuk berkali-kali di area dada dan punggung. Ibu korban yang melihat anaknya dibunuh berteriak histeris dan berusaha menyelamatkan korban meskipun dalam kondisi kaki yang sakit. Ibu korban mencoba menahan darah yang terus mengalir dari tubuh korban sambil beristigfar dan menuntun korban mengucapkan syahadat. Korban sempat berkata “Mah, darahnya ngalir terus. Aku nggak kuat, Mah.” Ibunya terus menguatkan dan mencoba untuk menahan darahnya yang terus mengalir. Setelah beberapa menit, orang-orang berdatangan dan membawa korban ke rumah sakit menggunakan mobil. Kondisi rumah berantakan dengan darah berceceran dari ruang tamu hingga ke teras samping rumah. Ibu korban masih syok dan terus menceritakan peristiwa yang terjadi kepada semua orang yang datang.

Sumber : Pinterest Thomas Tran
Sebelum peristiwa pembunuhan terjadi, korban telah diteror dan diikuti ke mana pun ia pergi. Korban dan mantan suaminya telah bercerai secara sah di pengadilan agama beberapa bulan yang lalu. Diduga, sang mantan suami melakukan hal keji ini karena tidak menerima jika harus bercerai dan ingin rujuk kembali. Selain itu, kecemburuan menjadi pemicu karena korban dikabarkan dekat dengan seseorang. Setelah bercerai, mantan suami menolak untuk pindah dari rumah korban, meskipun telah di bicarakan dengan baik-baik bahwa mereka bukan lagi muhrim dan tidak seharusnya tinggal bersama. Sang mantan suami tetap kekeh tidak mau dan malah mengancam bahwa dia bisa membunuh korban, ibu korban, bapak korban, dan anak-anaknya. Bapak korban karena tidak ingin hal-hal tidak diinginkan terjadi pasrah, sedangkan korban, ibu dan anak-anaknya memilih tinggal di rumah saudaranya.
Sebelum peristiwa keji ini terjadi, saat ulang tahun korban, ia memiliki impian untuk memberangkatkan kedua orang tuanya untuk haji atau umrah. Namun, hal itu kini sekadar angan korban yang juga menyisakan kenangan berharga dan dua anak kecil yang pintar, lucu, serta cantik dan tampan. Semoga korban husnul khatimah, diterima amal ibadahnya oleh Allah SWT, dan keluarga diberikan kesabaran serta ketabahan Aamiin.