Review Film Bolehkah Sekali Saja Kumenangis, Pentingnya Support Group dalam Penyembuhan Luka

Sumber: Pinterest/@ily (https://pin.it/4aKGCqlpZ)

Bolehkah Sekali Saja Kumenangis merupakan film drama Indonesia yang hadir dengan cerita yang kompleks. Film ini menawarkan kisah mendalam tentang tekanan batin, relasi keluarga, dan pentingnya Support Group dalam proses penyembuhan luka.

Melalui cerita yang personal dan dekat dengan kehidupan nyata, film Bolehkah Sekali Saja Kumenangis mencoba menyampaikan pesan bahwa menangis bukanlah simbol kelemahan, melainkan bagian dari proses alami tubuh untuk melepaskan stres serta rasa sakit.

Sinopsis Film Bolehkah Sekali Saja Kumenangis

Film ini berpusat pada perempuan muda bernama Tari (Prilly Latuconsina) yang dikenal mandiri, kuat, dan pekerja keras. Sejak kecil, Tari mengalami trauma verbal hingga kekerasan dari ayahnya (Surya Saputra) yang temperamental. Ia juga kerap melihat ibunya (Dominique Sanda) diperlakukan dengan kasar. Kondisi tersebut membuat batinnya tertekan, tapi ibunya selalu meminta ia untuk tetap tegar dan tidak menangis.

Merasa kehidupannya seolah tidak bisa dijalani, Tari memutuskan untuk mendatangi sebuah grup yang menjadi wadah bertukar cerita dan saling mendukung satu sama lain. Perlahan ia mulai memahami kondisi mentalnya dan mencoba untuk mengambil tindakan agar ayahnya berhenti memperlakukan ia dan ibunya dengan kasar.

Kelebihan

• Mengangkat isu kesehatan mental yang relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.

• Pendalaman karakter yang kuat dan menyentuh.

• Penyampaian pesan yang realistis.

Kekurangan

• Meskipun konflik utama dalam keluarga Tari dieksekusi dengan baik, terdapat beberapa elemen cerita yang terasa terputus-putus alurnya.

“Mungkin karena ceritanya kompleks dan panjang, jadi ada beberapa bagian yang masih terasa nanggung, seperti kedatangan kakak Tari yang tiba-tiba.”

Kesimpulan

Bolehkah Sekali Saja Kumenangis merupakan film drama yang menyajikan refleksi mendalam tentang luka batin dan pentingnya mengakui emosi. Lebih dari sekadar drama keluarga, film ini menunjukkan bahwa penyembuhan tidak terjadi secara instan ataupun individual. Support Group dalam film ini digambarkan sebagai ruang aman yang memungkinkan Tari belajar menerima emosinya tanpa rasa malu. Di sanalah ia menyadari bahwa menangis bukan kelemahan, melainkan bentuk keberanian untuk jujur pada diri sendiri.

Secara keseluruhan, film ini layak diapresiasi sebagai karya yang berani mengangkat isu kesehatan mental secara terbuka dan sensitif. Bagi penonton yang menyukai drama emosional dengan pesan kuat, film ini menjadi tontonan yang relevan dan menyentuh hati.

Editor: Dhia Salsabila Febriyana

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *