Film Bila Esok Ibu Tiada yang disutradarai oleh Rudi Soedjarwo sukses menyuguhkan sisi emosional terutama kesedihan akan momen penyesalan dan kehilangan sosok ibu. Film yang diproduksi Leo Pictures ini diadaptasi dari novel karya Nagiga Nuy Ayati yang menggambarkan tentang keluarga, pengorbanan, dan penyesalan. Film berdurasi 107 menit ini mampu menguras air mata penonton sejak menit awal.
Cerita bermula dari meninggalnya sang kepala keluarga yakni Haryo yang diperankan oleh Slamet Rahardjo yang merupakan suami dari Rahmi (Christine Hakim). Rahmi menjadi satu-satunya pilar keluarga yang berjuang membesarkan keempat anaknya, Ranika (Adinia Wirasti), Rangga (Fedi Nuril), Rania (Amanda Manopo), dan Hening (Yasmin Napper). Hubungan keluarga itu pun berubah ketika anak-anak beranjak dewasa dan sibuk dengan kehidupannya sendiri. Mereka seringkali terlibat cekcok, memperdebatkan siapa yang lebih banyak berkontribusi dalam mengurus ibu dan rumah. Karakter dalam film tersebut mampu mewujudkan perdebatan yang penuh emosional seperti pada realitas.
Adinia Wirasti sebagai Ranika yaitu anak sulung, sukses menggambarkan beban yang ia pikul hingga rela terlambat menikah demi keluarga. Perbedaan pandangan di antara Ranika dan ketiga saudaranya menimbulkan ketegangan yang terus memuncak. Di balik semua itu, ada rahasia besar yang disembunyikan sang ibu, yaitu kondisi kesehatan yang semakin menurun. Sakit yang semakin memburuk ia tanggung sendirian, karena tidak ingin menambah beban bagi anak-anaknya yang terjebak dalam ambisi masing-masing. Hingga suatu hari keempat anaknya saling menyalahkan satu sama lain karena baru mengetahui penyakit ibunya ketika sang ibu pergi tanpa pamit ke Pekalongan untuk mengunjungi makam suaminya.
Tak lama, sang ibu meninggal. Kepergian ibu menyisakan luka, penyesalan, konflik, dan saling menyalahkan satu sama lain. Bahkan keempat saudara tersebut menjadi semakin renggang. Dalam kekacauan keluarga tersebut, film ini menyisipkan filosofi kintsugi dari Jepang yaitu seni memperbaiki keramik retak dengan emas, menjadikan pecahan-pecahan sebagai keindahan yang baru. Filosofi ini menjadi simbol meski keluarga mengalami keretakan, masih ada harapan untuk memperbaikinya. Dapat terlihat ketika keempat saudara tersebut mulai menyadari arti saling menyayangi dan mendukung satu sama lain setelah kehilangan sosok ibu.
Meskipun film ini sukses membuat banjir air mata bagi penonton, ada beberapa adegan yang terlalu cepat dan dipotong-potong. Namun, pemeran-pemeran dalam film tersebut mampu menunjukkan emosional yang mendalam sehingga penonton juga ikut merasakan emosi tersebut. Lagu “Ibu” oleh Haddad Alwi yang digunakan dalam film tersebut dapat menambah kesan dramatis sehingga mampu membuat penonton lebih banjir air mata.
Film Bila Esok Ibu Tiada sangat direkomendasikan untuk pecinta drama keluarga yang menguras emosi dan air mata. Jangan lewatkan kesempatan menontonnya di bioskop!